... hope my two cents worth...

" So why is it precious?"

"Because besides my full-time job as a wife to Arie, a mother, cook, driver, nanny, cleaner, gardener, entertainer (and so on an on and on) to my lil princess Nicole, I have only very little time for myself to do my own thing except the necessity, thus I really need to spend that time wisely.
In the need of "sharing" things inside my mind to keep my sanity, so here we are...

.. and I hope my two cents worth..."



Thursday, December 16, 2010

Roman Picisan

Tiap kali balik ke Indonesia, gue pasti gregetan kalo nonton acara sineton di TV pasalnya jalan cerita yang konyol dan cenderung bertele-tele, juga sering kali tidak masuk akal dan terkesan dibuat-buat.

Seperti misalnya semalam kebetulan gue nonton satu scene dimana seorang perempuan berada di dalam kamar tidur bersama dengan anaknya, ia duduk di pinggir ranjang dan anaknya berada di dalam stroller. Kemudian ia menerima telepon dari seorang laki-laki yang dalam cerita ittu adalah suaminya. Ia terdengar marah-marah kepada laki-laki itu ketika si suami mengatakan bahwa ia kangen kepada si istri dan anaknya, ia menelepon hanya karena ingin mendengar suara mereka. Si istri merespon dengan teriakan dan mengatakan bahwa anak mereka sudah tidur. Si istri mengakhiri pembicaraan dengan alasan sudah malam dan ia ingin tidur.
Tentu saja gue menangkap beberapa hal aneh dari tayangan 3 menit itu. Pertama, di dalam kamar tidur kok anaknya tidur di stroller. Kedua, mana mungkin sih kalau anak lagi tidur ibunya telepon sambil teriak-teriak di depan anak itu. Ketiga, sudah mau tidur tapi dandanannya menor banget bak baru keluar dari salon.

Sinetron Indonesia memiliki kecenderungan menampilkan peran baik yang sangaaat baik dan lemah, sementara peran antagonisnya terlihat jahaaaat sekali. Jalan ceritanya sangat mudah ditebak.
Padahal gue inget sewaktu gue kuliah mass communication dulu pernah ada paper tentang bagaimana media sebenarnya memiliki peranan besar dalam membentuk karakter sebuah bangsa.
Jadi kalau suatu bangsa bodoh, yah sedikit banyak itu adalah tanggung jawab dari media komunikasinya.

Saking sebelnya, gue pernah nulis email ke salah satu stasiun TV, complaint tentang hal ini. Gue bilang, bagaimana bangsa ini bisa maju kalau terus terusan "diajari" menjadi bodoh lewat tayangan tayangan sinetron yang merajalela. Tentu saja email gue tidak pernah dibalas, seperti yang sudah gue duga.

Satu hal yang gue syukuri dari sinetron adalah sebagai sarana hiburan yang baik untuk nenek gue. Sampai setua ini dia hafaaal semua nama-nama dan jalan cerita semua sinetron yang ada di berbagai stasiun TV. It really keep her away from getting pikun... hehehe

Satu lagi sinetron yang gue liat semalem, ceritanya tentang putri yang tertukar, di scene 5 menit yang gue liat (gue engga sanggup nonton lama-lama) mereka sedang mempeributkan tentang tes DNA terhadap putri mereka yang sudah di usia remaja.
Hal ini membuat gue bertanya tanya pada diri sendiri semisal gue di posisi itu, apa yang akan gue lakukan?

Setelah mikir cukup lama... akhirnya gue putuskan, untuk engga cari tau, gue engga akan tes DNA. Gue akan terus menganggap anak yang sudah gue rawat itu adalah anak gue.

Tapi yang pasti Nicole adalah anak gue dan engga mukin ketuker, wong waktu tali pusarnya masih nempel di gue aja ada udah gue peluk, juga terus-terusan di rekam video ataupun kamera kemanapun dia pergi dari pandangan gue (cuma kurang dari 5 menit buat ditimbang dan diukur trus dibalikin lagi ke gue) selama ditimbang dan diukur itu bapaknya dan grandmanya ngikutiiin terus... hehehe.

No comments:

Post a Comment